Siapa yang Dididik?
30 Jan BismillahirrahmanirrohimSiapa yang didik?
Bicara tentang ‘didik’ yang merupakan kata dasar pendidikan mencakup tiga hal (teori sendiri) siapa yang dididik, siapa yang mendidik, dan materinya.
Lagi-lagi bicara tentang masalah pernikahan (lagi musim nih di angkatan saya (SMP)) ada korelasi antara didik, suami, istri, dengan ilmu yang dimiliki.
Akan penulis paparkan apa hubungan dari keempat hal tersebut. (kok jadi ribet gini) Jika kita telah membaca buku-buku tentang pernikahan ex: Panduan Lengkap Nikah A-Z oleh Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, Keluarga Sakinah oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Romantika Kaawin Muda oleh Zainal Abidin, dsb maka di sana dipaparkan bahwa kewajiban yang mendidik di sini adalah seorang suami mendidik istrinya dalam perkara agama. Sebagaimana dalil yang terdapat pada surat at-Tahrim ayat 6 seorang suami berkewajiban menjaga diri dan keluarganya dari api neraka selain itu juga disebutkan dalam hadits shohih Nabi bersabda: ” Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan di tanya tentang kepemimpinannya. Penguasa yang memimpin atas manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang mereka, dan seorang pria adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka.” ( HR. Al-Bukhari no. 5188) dan tidak saya temukan terdapat kewajiban istri untuk mendidik suaminya.
Lalu bekal apa yang harus dimiliki oleh seorang suami untuk melaksanakan kewajibannya? jawabanyya adalah ilmu dien yang telah ia pelajari seara seungguh-sungguh sebelum ia melangkah ke jenjang pernikahan ilmu yang paling penting ia pelajari dan ia ajarkan nantinya adalah ilmu tauhid karena ilmu itu merupakan hal yang paling urgent dalam mengarungi hidup di dunia yang hanya menumpang sebentar untuk mencari bekal.
Dari tulisan di atas sedikitnya dapat disimpulkan bahwa seorang laki-laki seyogyanya telah memiliki ilmu dien sebelum ia menikah agar ia dapat mengajarkan istrinya setelah ia menikah karena sifatnya sebagai seorang pemimpin.
Bagaimana pandangan seorang akhwat yang belum menikah dengan seseorang ikhwan yang memiliki ilmu lebih sedikit dibandingkan dirinya? secara realistis seorang laki-laki ingin mendapatkan wanita yang sholihah dan yang memiliki ilmu dien yang bagus agar istrinya mampu mengajarkan putra-putrinya nilai-nilai keislaman, begitu juga sebaliknya seorang akhwat menginginkan lelaki yang sholeh yang dapat mengajarkannya ilmu agama agar berkesinambungan dengan kewajibannya sebagai seorang ibu yang harus mendidik putra-putrinya. Tapi jika Allah menakdirkan mereka berjodoh maka diwajibkan bagi seorang suami belajar sungguh-sungguh agar dapat menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
*Semakin baik ilmu yang telah dimiliki oleh sang suami akan semakin mudah ia mendidik istrinya
kesimpulannya disarankan memilih pasangan yang sekufu dalam hal agama atau lebih baik dari sang istri karena penting untuk kehidupan dunia dan akhiratnya bukan harta ataupun kedudukan karena hal itu akan lebih menentramkan, insyaAllah.
wallohua’lam
referensi
Keluarga Sakinah
Panduan Lengkap Nikah A-Z
Romantika Kawin Muda
NB : Artikel ini copasan dari link berikut ini : http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7973372894235984398#editor/target=post;postID=2695767811158348118
No comments:
Post a Comment